Tentang Laut

Posted: Februari 12, 2016 in Syair 4 ruas

Berikan daku sebuah mimpi tentang laut tak bergelombang yang tak bisa kuingat lagi karena daku tak ingin pernah bangun dari peraduan.

Jika terbangun, daku tak pernah sanggup melerai akal memikirkanmu. Padahal kutahu, memikirkanmu adalah muasal menebalnya tabir baru dan baru lagi. Pada berpikirku, tertanam serta perasaan mampu memahami, menguasai, dan memiliki. Pada berpikirku, gelombang semakin menghempaskan ketenangan lautku. Semakin berkali berpikirku, semakin tak mengerti daku, semakin tak menjangkau daku, semakin gemuruh gelombangku.

Daku tak perlu memikirkan, pula mengingat, agar tabir-tabir itu tak semakin tebal. Daku ada bukan di pikirku, ingatku, tapi laut-lautku yang tak bergelombang.

Laut ke-gak-ada-an, di dini kelam, dikawani hujan, sepi gelombang. Maka daku ingin tenggelam dalam mimpi yang dalam dan panjang, yang memisahkan pikiran dari akal, ingatan dari angan, lautan dari gelombang.

Kesunyianku adalah keberadaanku dan ketiadaanku. Samofa Olfie.

ECCEDENTESIAST

Posted: Februari 10, 2016 in Catatan Tepi Kali, Syair 4 ruas

An “Eccedentesiast” is the one who fakes a smile or represses his pain by stifling a smile. Or you could say a person who hides his feeling behind a smile

Daku kembali memutuskan untuk bikin postingan dalam blog cecakhitam, sebagaimana janji daku buat seseorang yang telah berpulang ke rahmatullah beberapa bulan lalu. Dia selalu bertanya,”kenapa enggak nulis lagi di blog cecakhitam?” Daku hanya senyum. Menulis sebenarnya sudah menjadi habit daku. Apakah lantas selama setahun lebih ini daku memasung habit itu? Jawabnya GAK. Daku tanpa diketahui oleh orang-orang yang mengenalku, membuat sebuah blog lain yang hingga saat ini masih terus bergulir postingan demi postingannya. Karena menulis sangat sulit untuk kutinggalkan.

Apa yang akan kutuliskan dalam postingan ‘comeback’ kali ini. Entahlah. Sedikit bingung dalam merapal jejak-jeka baru buat sang cecak. barangkali daku akan mencoba memulai dengan sebuah renungan. Dan terserah saja bila ini nantinya di katakan sebagai renungan sok lebay.

Adakalanya, dalam kesendirian ketika pulang ke rumah dan terbebas dari aktifitas kerja, daku memikirkan berbagai macam hal. Dalam hidup ini, ada banyak ‘benda-benda’ yang bagi kita rasanya sangat mudah tapi buat orang lain amboi sulitnya. Sebaliknya, juga ada banyak hal lain yang buat orang lain kelihatannya gampang tapi bagi kita susah setengah mati. Daku kira, kalianpun pernah mengalami. Misalnya, ada yang nyari duit sejuta sehari kelihatannya mudah sekali, padahal bagi yang lain nyari 10 ribu aja susahnya ibarat nunggu hujan turun tengah hari dalam beberapa minggu ini di pulau bunyu. Tahun baru imlek di 2016 ini pun nyaris zonder hujan di pulau ini lho. Asli kering. Tapi kali ini daku gak berniat bahas soal perhujanan. Kembali ke kasus sulit-mudah tadi, pada situasi lain, berbalik kasusnya. Ada teman yang sejak 6 tahun usia pernikahan mereka sudah ngebet pengen punya anak, sudah berikhtiar segala rupa, habis biaya sekitar puluhan juta juga, tapi belum juga dikasih-kasih anak, sedangkan yang lain, hanya gara-gara lupa sekali gak pakai fiesta rasa stroberi aja langsung ‘jadi’. Ada yang memiliki pekerjaan enak dengan gaji besar, sementara yang lain ada yang masih luntang lantung mencari pekerjaan. Ada yang sudah menikah berkali-kali, pada perkara lain, masih ada yang jomblo sampai terngesot-ngesot.

Sangat kita sadari, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan. Dia menguji kita dengan keberuntungan dan kemalangan masing-masing. Maka, tidak ada sikap yang lebih baik selain bersyukur atas anugerah yang kita terima, sembari berempati atas cobaan yang menimpa sesama. Tidak perlu jumawa pongah menepuk dada atas kelebihan yang kita punya atau prestasi yang kita raih. Pun janganlah berkecil hati dan sedih berlebih atas kelemahan yang ada dan musibah yang sedang menimpa. Senyum selalu. Mengeccedentesiast diri tak ada ruginya.

‘Itu namanya eccedentesiast, mas’, begitu ucapan adiknya kawanku yang kini bekerja di sebuah rumah sakit di Pekalongan. Aku mendengar istilah itu di tahun 2008. Ketika sedang mengobrol bertiga dengan kawanku dan adiknya, daku mengutarakan kekaguman pada kerabat mereka, bu leliana, yang tetap terlihat tegar dan tabah meskipun 2/3 rumahnya ludes terbakar bersama belasan rumah warga di gang mereka. Bu leliana menyapa kami dengan hangat waktu kami baru datang untuk menengok keadaannya bersama 2 putrinya yang masih kecil. ‘eccedentesiast itu apa ul?’tanyaku kemudian. Seingatku, kalo gak salah ingat ya, waktu uul menjelaskan makna eccedentesiast, aku mencatatnya dalam buku kecil yang selalu kubawa keman-mana dalam tas ketika itu. Gak nyangka butuh waktu sewindu untuk kemudian memakai istilah tersebut.

Hmmm,,, hidup ini memang terlalu berat. Terlalu berat untuk kita mengucapkan syukur pada Tuhan. Padahal kita tau segala sesuatu telah diskenariokan oleh Tuhan.
Tuhan adalah sebaik-baik penulis skenario. Karena Tuhan sekeren-keren sutradara…..

Akhir Jejak

Posted: Agustus 13, 2014 in Catatan Tepi Kali

Doakan daku berhasil menjadi orang baik dan lebih baik
doakan daku agar menjadi orang yang bermanfaat
inilah akhir jejak cecakhitam.
Assalamu’alaikum.

Mengacalah, cecakhitam!

Posted: Agustus 13, 2014 in Syair 4 ruas

Ya Allah…
mengapa ketika daku mulai mendekatiMu lagi
kini Engkau beri daku tamparan sekeras ini
hanya ini impianku tersisa
hanya ini

Indonesia & Google Maps

Posted: Agustus 11, 2014 in Catatan Lari, Syair 4 ruas

Entah sudah berapa kali daku mengakses Google Maps. Tak terhitunglah pokoknya. Tapi baru hari ini, pas akses Google Maps, daku akhirnya ‘ngeh’ bahwa Indonesia adalah salah satu dari amat sangat sedikit negara yang seluruh daratannya berwarna hijau dari ujung ke ujung. Dari ujung barat sampai ujung timur, dari ujung utara sampai ujung selatan. Semuanya hijau.

Hijau, yang berarti tertutup pepohonan, yang berarti manusia bisa hidup nyaman di sana tanpa heater, tanpa jaket tebal, tanpa kipas angin, tanpa AC.

Hijau, yang berarti tanahnya subur, yang di atasnya bisa ditanami hampir semua spesies tumbuhan, kapan saja, tidak harus menunggu musim dingin atau musim panas karena matahari melimpah sepanjang tahun.

Negeri yang seluruhnya hijau itu bernama Indonesia. Bukan USA, bukan Australia, bukan pula China atau India. Maka sesungguhnya negara ini punya semua syarat untuk menjadi kaya raya. Hanya diperlukan manusia-manusia yang cakap dan pemimpin-pemimpin yang juga cakap selain tentu saja jujur dan amanah. Hanya itu, karena semua syarat sisanya telah disediakan oleh-Nya, cuma-cuma.
10015016_10154087517215235_4031603626792052888_n